Dulu waktu saya masih abege…
Kemana-mana pakai kenalpot berisik. Persetan dengan serapah para ibu dan om yang saya lewati, yang penting saya asik. Tidak peduli suaranya akan menyakiti telinga setiap mahluk dalam radius 10m sepanjang rute 50km, dikali dua, nyaris setiap hari.
- Konon knalpot begitu menguatkan tenaga mesin, walau tak terasa banyak bedanya, tapi sugestinya sudah menyenangkan.
- Katanya itu membuat diri tampak gawl (baca: gaul), sebagai kuper yang ingin dianggap gawl saya sangat menikmati naiknya harga diri.
- Para teman (yang ternyata sama nggak beresnya) selalu bilang itu membuat motor jadi keren dan racing. Sebagai sembalap wannabe yang haus perhatian saya mengamininya.
- Satu hal yang terbukti benar adalah saya tak perlu memijat klakson lagi selamanya. Bahkan tanpa memainkan gas pun setiap mahluk yang akan disalip sudah sadar bahwa dalam sepersekian detik akan ada anak gawl dengan motor yang racing banget akan melejit mendahului. Secara suara knalpot memang sudah lebih keras dari apapun yang ada dilangit dan dibumi *tidak hiperbol*. Begitu kerasnya hingga melesat duluan jauh mendahului si motornya sendiri.
Tidak peduli dengan kagetnya jantung orang lain, persetan dengan organ pendengaran yang menempel di kepala mahluk lain. Yang penting adalah rasanya untuk diri saya. Demi rekor time attack yang makin hari makin sulit dipecahkan. Demi segala alasan yang cuma saya seorang yang bisa mengerti. Yang penting rasanya.
Mungkin ini sama dengan prilaku para bapak dan om-om bepenampilan “lebih suci dari kamu” yang gemar meneriakkan doa dengan pengeras suara dari bangunan-bangunan yang dianggap suci.
- Konon lantunan doa itu menghasilkan pahala. Akan bagus untuk mengklaim kapling di surga kelak.
- Konon yang mendengar juga dapat pahala. Jadi ini sama saja kegiatan bagi-bagi pahala. Dan hanya orang bodoh yang menolak saat dibagi-bagi pahala.
- Konon Tuhan/Allah/Elohim/Siapapun sebutannya, suka sekali mendengar orang yang berdoa dengan sangat nyaring lewat penguat suara seperti itu. Menyenangkan Tuhan, tentunya adalah hak setiap hati yang penuh iman.
Persetan dengan pemilik telinga yang terganggu. Tak peduli waktunya manusia normal tidur. Tak peduli sakit gigi seorang tetangga dekat jadi semakin nyeri. Karena yang penting hanyalah keyakinan si pemekik pada doa; Pada pahala yang dihasilkannya dan pada Tuhan yang dia teriaki dengan sepenuh hati. Yang penting ego religius terpuaskan dengan pekik-pekik relijius. Yang penting rasanya.
Sama juga dengan para perokok yang klepas-klepus di area publik. Mengasapi seluruh penumpang angkot, bus atau kereta. Mengasapi anak istrinya sendiri. Mengasapi siapapun yang bisa diasapi.
Persetan dengan peringatan pemerintah. Persetan dengan kemungkinan gangguan kesehatan yang mereka timpakan pada diri orang sekitarnya. Persetan ada anak istri yang teracuni. Yang penting sakaw nikotin terpuaskan. Yang penting rasanya.
. . .
Kemudian saya berubah. Sejak tahu betapa tidak nyamannya berdekatan/dilewati/berpapasan dengan jahanam berknalpot najis; Betapa kagetnya saat tidur siang tiba-tiba seorang sembalap wannabe melesat dengan knalpot terkutuk; Betapa susahnya mendengarkan TV/HP saat ada sembalap wannabe mendekat dan masturbasi dengan knalpot.
Sekarang saya pakai knalpot standar pabrik dan memilih yang bunyinya sangat jauuuuuuh lebih sopan.
Saya sudah berubah.
Tapi para om dan aki desa yangs suci belum juga berubah. Mereka masih konsisten. Tetap tekun meneriakkan doa dengan pengeras suara. Teman-teman yang perokok juga banyak yang belum berubah, banyak yang semakin parah, sampai menemukan pembenaran bahwa asap pun ternyata juga menyehatkan badan selain menyehatkan perekonomian bangsa.
Saya berubah. Standar kepantasan saya berubah. Empati dan iman saya berubah. Mereka tidak berubah, tetap konsisten dengan cara-cara dan keyakinan lama.
Saya nyaman dengan perubahan ini.
Mereka nyaman tanpa perubahan.
Karena yang penting rasanya.
Masing-masing selalu punya alasan dan pembenaran sendiri.
Dengan menuliskan seperti ini, saya menciptakan ilusi, setidaknya untuk diri sendiri, seolah sudah lebih baik dari pada mereka. Mungkin saja mereka (yang saya sebut demi mendapatkan rasa lebih baik ini) sebenarnya malah jauh lebih baik. Walau ilusi, tapi rasa yang dihasilkan itu cukup real. Benar-benar terasa.
Ya, itu tadi. Yang penting kan rasanya. :)
- – -
Apakah ada yang aneh?


Kocak abis…
*bertobatlah…*
Sudah Mas, masih terus berproses sih.
Betoel….!!
Yang penting rasanya.
Ngehee juga tuh orang2 yg pake knalpot gak beradab, tapi anehnya klo saya amati gak semua yg pake knalpot model begitu adalah para ABG. Bahkan banyak orang yang (semestinya) sudah dewasa, karyawan, bapak2…..
Kadang saya pikir mereka kekanak-kanakan, gak terpuaskan hasrat “nakalnya” waktu muda dulu…..
Soal yg menyangkut reliji?
Hm, klo dah yakin begitu ya POKOKE begitu!!!
Hahahaha……
Ada seorang istri mereka yang bilang itu malah bagus. Biar kalau dijalan raya lebih aman, karena setiap mobil menyadari ada motor didekatnya. Jadi mungkin bukan karena memuaskan hasrat nakal, tapi hasrat memuaskan istri :P
kayak teglainnya rokok Guh…
memangnya kenapa Siw
terinspirasi untuk belajar merokok :D
Silakan mbak. Saya sarankan belajarnya bersama suami tercinta :)
NYaman adalah rasa.
Karena mengejar RASA manusia jatuh dalam berbagai pencobaan
RASA adalah fakta dalam kehidupan
Bereaksi terhadap RASA itulah yg sering jadi Problem.