Suatu siang, Bu Pito meng-email saya sebuah link menuju artikel yang ditulis seorang asing. Tentang rasa heran yang timbul atas prilaku MUI dan teman-temannya (yang dengan mengatasnamakan umat Islam menolak kedatangan Miyabi). Disana Bu Pito berusaha memberi pengertian bahwa Indonesia sebenarnya sangat majemuk. Kemajemukan itu juga terjadi dalam umat yang Islam, hingga tidak semua orang Islam Indonesia berpikir seperti MUI, apalagi mendukung mereka.
Karena link itu beliau berikan secara utuh, tanpa dikemas dengan penyingkat URL (macam tinyurl.com atau bit.ly), maka saya dapat membaca nama situsnya. Ternyata nama situs itu mengandung kata *miyabi*.
Begitu melihat nama itu, saya langsung memutuskan untuk tidak segera membuka link tersebut. Saya pun beralasan sibuk dan akan membukanya nanti malam saja dari tempat yang lebih pribadi.
Beberapa saat setelah kejadian itu, saya baru sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang HEBAT!
Tahukah anda itu artinya apa?
Itu berarti saya sudah memiliki cara berpikir yang hampir sehebat pak Syapaitu, yang menolak Miyabi datang karena bermuka mesum.
Coba perhatikan, hanya karena namanya mengandung kata Miyabi, tanpa membuka situsnya, tanpa peduli apa yang dibahas disana, saya langsung menghakimi bahwa situs itu terlalu mesum untuk dibuka di area publik.
Dalam pikiran saya, kata “Miyabi” itu sudah terkait erat dengan video-video begituan, tentang hubungan seks tak relijius yang dipenuhi rintihan palsu murahan dan menyebalkan. Karena itulah setiap kali membaca atau mendengar kata “Miyabi”, maka segala data yang tercantol tadi secara otomatis ikut dipanggil dari ingatan. Semuanya terbayang-bayang dan mempengaruhi pengambilan keputusan.
Kemungkinan, hal yang sama pernah terjadi juga dalam kepala Ulama Syapaitu. Segala bayangan yang muncul membuat beliau menganggap muka Miyabi begitu mesum hingga pantas dicegah kedatangannya di Indonesia. Tidak penting lagi alasan kedatangan Miyabi untuk apa, jika mukanya saja sudah membuat pikiran beliau jadi mesum, apalagi orang lain. Maka pantaslah Miyabi ditolak kehadirannya.
Sebenarnya cara berpikir seperti ini terasa cukup religius. Maksud saya lumayan berbau-bau agama gitu. Untuk apa bersulit-sulit mengawasi keliaran pikiran dan mengendalikan birahi? Lebih praktis jika kita singkirkan saja pemicu-pemicu yang tak berdaya itu. Lagi pula, semua aturan suci itu kan dibuat buat untuk memudahkan umat, bukan malah mempersulitnya.
Tapi….
Walau merasa punya cara berpikir yang hampir sehebat Ulama… Tapi kok ada rasa tidak nyaman ya. Rasanya masih ada yang mengganjal…. Eits… Bukan itu! Yang ngganjel itu bukan sesuatu di dalam celana kok, tapi di dalam pikiran. Sesuatu yang bikin gelisah. Apa ya?


Nulis sendiri, gelisah sendiri. Hihihi…
Daripada repot2 mengendalikan nafsu diri…mendingan yang bikin dia nafsu itu dimusnahkan/disingkirkan saja. hahahha…, gak mau repot alias egois ya….
Kalau dirinya tidak mau untuk belajar mengendalikan nafsu-emosinya, bagaimana “kedewasaan” dirinya akan bertumbuh…??
(mencita-citakan dunia yang bebas pembangkit nafsu birahi, emang bisa??)
Jangan repot2 mengubah dunia, ubahlah diri sendiri, kendalikan….
Eh, yang ngganjel di celana apaan guh? Situ ngantongin sebungkus rokok ‘kali….