Update ini untuk berbagi dugaan yang muncul sebagai hasil bersenang-senang selama beberapa hari.
. . .
Sepertinya, hampir setiap orang dengan mudah memberikan cintanya jika standar kualitas yang diharapkan terpenuh.
Contohnya begini, untuk mendapatkan sebongkah cinta dari Nona/Tuan X, anda cukup meningkatkan kualitas diri anda hingga melampaui standar yang beliau harapkan. Beda orang tentu beda kualitas yang dia hargai, ini memang harus dicari tahu dulu. Tapi kebanyakan orang selalu menilai dari penampilan dan kelihaian bicara dulu. Setelah itu mungkin tebalnya uang, baru kemudian menilai kualitas yang lain.
Lain orang, lain pula kualitas yang dihargai. Mungkin kesehatan, ketajaman pikiran, keberanian, keuangan, kemapanan, kharisma, kelihaian bicara, penampilan, kepemimpinan, pengabdian, kekuatan, kemampuan memberi perhatian dan lain-lain. Apapun. Malah tak terbatas pada kualitas yang dianggap baik masyarakat. Kadang, kadar anarki yang agak pekat juga dapat mempesona mereka yang menghargai kualitas seperti itu. Saya tidak sedang menuduh abege tertentu lho.
. . .
Dengan memiliki berbagai kualitas yang berharga, anda bisa dapatkan cinta dari hampir semua orang, siapapun yang bisa anda penuhi standarnya. Tidak hanya cinta dari orang biasa, tapi juga dari raja dan ratu, guru dan mahaguru, hingga dewa maupun dewi dan tuhan-tuhan sekalipun!
Siapapun dan apapun yang menjual cintanya, dapat anda beli asal anda mampu bayar sesuai harga.
Bahkan mereka-mereka yang sudah punya pasangan dan terikat dalam janji sucisumuci sekalipun. Dengan harga yang sesuai, anda bisa beli cintanya. Anda bisa buat mereka meninggalkan (atau setidaknya diam-diam menghianati) pasangannya demi anda. Tentunya yang terakhir ini agak tergantung pada seberapa banyak waktu yang anda rela bayarkan demi mengikis kesetiaan sang penjual pada kontrak imajiner yang dia teken sebelumnya.
. . . . . . . . .
Lantas sebenarnya, yang dicintai itu siapa? Anda, atau segala kualitas yang menghiasi sekujur eksistensi anda? Jika segala kualitas yang sekarang menghiasi anda dipindahkan seluruhnya pada seseorang/sesuatu yang lain, akankah sang pecinta tetap mencintai anda?
. . . . . . . . .
Saya tidak tahu. Anda tahu?
. . . . . . . . .
Apapun jawaban dari pertanyaan menyebalkan itu, sebaiknya kita selalu menjaga kesehatan lahir maupun batin. Kenapa? Karena gangguan kesehatan macam stroke, atau apapun yang mengganggu daya pikir/ingat/konak, bisa menghilangkan kualitas-kualitas yang selama ini kita tumbuhkembangkan dan memperindah keberadaan kita. Bisa melenyapkan segala kualitas-kualitas yang membuat kita dicintai oleh Dia yang cintanya kita beli.
Lenyapnya kualitas-kualitas yang kepadanya cinta Sang Pecinta bersebab, tentu akan membuat beliau depresi. Setiap saat, setiap waktu harus berjuang untuk memilih, tetap setia atau mencari yang lebih berkualitas. Hidup dalam ketersiksaan bodoh yang menyedihkan itu neraka.
Tuh kan… Saya mulai tergoda untuk menakut-nakuti anda… Maaf, sampai disini saja kalau begitu.
. . . . . . . . .
Selamat meningkatkan kualitas diri,
selamat menikmati daya beli,
selamat menjaga kesehatan,
selamat bercinta!
Salam Cinta!
*Sedikit tambahan, siapa tahu lupa terpikir, sebenarnya sudut pandang bisa diubah fleksibel. Setiap kepala bisa jadi pembeli maupun penjual, juga bisa jadi keduanya sekaligus. Setiap penis, vagina, hati dan kepala bisa sibuk bertransaksi. Kalau mau.


untuk lancarnya transaksi, produk biasanya memerlukan kemasan yang bagus dan mengkilat mas. selanjutnya harga bisa di sesuaikan danbahkan di tingkatkan jika bersesuaian dengan tren yang berlaku
Tentu saja Bang, kalau penampilannya menarik, tentu semakin mudah dijual dengan harga yang lebih tinggi.
Tapi ya ada saja segmen tertentu yang begitu kepepet sampai tidak peduli dengan kemasan, asal ada, asal dapet, penampilan parah juga dipake, mungkin karena saking sakaw :D
In a nutshell, kesetiaan akan abadi dan perselingkuhan tidak akan terjadi kalau personalnya ‘tidak mau’, rite?
engggg…. itu… sepanjang itu sebenarnya berusaha menjelaskan apa yang membuat seseorang ‘tidak mau’ melanggar janji imajinernya. Karena masih ada kualitas-kualitas yang bermanfaat.
Bayangkan jika seorang pasangan benar-benar tidak memberi manfaat apapun yang berharga, cuma jadi beban, merepotkan, buang-buang waktu, bikin malu dan pusing sembilan keliling… apakah mungkin seseorang bisa tetap setia?
Eh… Ya mungkin saja tetap setia. Karena semua efek yang barusan saya katai sebagai tidak bermanfaat, ternyata justru itulah manfaatnya. Mungkin saja seseorang ternyata begitu masokis hingga menikmati penderitaan dan kesusahan. Dari situlah kepuasannya berasal.
Ya gitu deh, kayaknya disitu ya kuncinya, “manfaat yang memberi kepuasan”. Itu kan yang kita semua cari?
O, baru ngerti intinya ‘manfaat yg memberi kepuasan’ hehehe… makasih penjelasan *termasuk yg di FB* panjang lebarnya :D
Sebenarnya karena justru pertanyaan dari ibu itu saya jadi mikir dan mencapai maqam pemahaman berikutnya…
ehm.. tapi ini sebenarnya pemahaman atau malah sebaliknya ya… hihi.
nganu mas… setelah menentukan pasangan yang memuaskan, saya doktrin diri sendiri “PASANGANKU YANG TERBAIK, yang laen…lewat!!!” nah doi pun di doktrin begitu…
lalu masing-masing melakukan yang terbaik demi pasangan dengan rela (istilah kerennya berkorban demi pasangan) tanpa terpaksa toh?!?
Doktrin yang hebat bang, gimana caranya tuh, ajarin dong. Saya juga ingin mendoktrin semua abege seksi disekitar sini untuk keuntungan saya *rakus*
Btw bang, kenapa tiba-tiba ada kata “terpaksa”? Ini bukan curcol kan?
Bagus Guh, jadi semakin menambah keyakinan, bahwa sebenarnya sebagian besar orang itu “cinta pada atribut” yang melekat, dan belum tentu mencintai sang empunya atribut, karena atribut itu sendiri bisa didapat dan bisa juga hilang dari diri…..
Tapi yg dibilang Bangaip itu juga bener, klo kita sdh mensugesti diri sendiri bahwa pasangan kita adalah yg terbaik, lupakan tetek yg bengek laen, hihi…..
Begitu dahsyat efek sugesti. Bisa membuat kita berhenti menilai dan menghakimi, lupa sama hitungan untung rugi. Sepertinya ilmu mensugesti ini perlu dipelajari dengan serius.