Harga hosting dan domain sudah terjangkau. Paling harganya berapa sih? Bahkan penghasilan seorang pengemis dalam sehari, apalagi di bulan suci kemarin pun cukup untuk sewa tempat dan alamat lebih dari setahun.
Dengan menggunakan dot com sendiri, anda bisa tampil lebih berwibawa. Kelihatan modal. Tampak ngeblog lebih niat. Apa yang dituliskan juga tampak jadi lebih kredibel, hingga kemungkinan disimak dan dipikirkan oleh pembaca lebih besar.
Aksesibilitas blog anda juga lebih terjamin. Server hosting berbayar hampir selalu lebih cepat dan stabil. Bandingkan dengan gratisan yang bisa off line kapan saja dengan alasan apapun. Pembaca mungkin akan memaki blog anda yang eksistensinya tak dapat diandalkan.
Dan yang paling penting, ada jaminan konten kita tidak lenyap begitu saja. Karena kita sudah membayar, maka kita berhak mendapatkan jaminan keamanan. Ada yang bertanggung jawab menjaga karya kita. Bandingkan dengan tempat gratisan, saat terjadi apa-apa, anda tak akan bisa menuntut siapapun.
Ada lagi?


bisa bebas nambahi pernah pernik yang mungkin perlu, mengubah wajah sekalian operasi plastik juga ngga ada yang ngelarang, ples ngga ada yang ngereport report alias ngadu kalo posting yang agak mesum. :D
Kalau untuk kebebasan itu, bukankah banyak hosting gratisan juga membolehkan? Misale bogger.com
Sebenarnya menurut saya lebih enak hosting sendiri kalau ada perangkatnya. Yang tidak enak masalah update maintenance servernya dan pemeliharaan cron, maka itu pakai hosting berbayar.
Cron… Saya tidak tahu itu binatang apa. Tapi kalau update dan maintenance server, yang gratisan seperti wordpress.com kan sudah sempurna banget, walau tanpa kebebasan seperti yang disukai Siwi diatas.
Iya, ngapain di bayar kaloe tetap bisa ngegampar….????!! ilang aling dot bla bla di belakangnya jika sampah isinya tetap sampah…baunya juga keluar ky ketek babu….
iya…cron tu binatang apa???
Komentar yang sangat berpendidikan. Semoga saudara-saudari yang berprofesi babu yang ikut baca tidak tersinggung.
Soal bau ketek…. Mungkin itu disebabkan oleh gaji yang terlalu kecil, hingga deodorant pun tak terbeli.
Atau bisa juga karena kesadaran yang kurang. Saya juga sering gitu, dengan mudah melihat keburukan pada orang lain, dengan semangat menghakiminya, tapi kekurangan diri sendiri tak terperhatikan, sampai bau ketek sendiri tidak tercium. Ribut dengan busuknya orang lain, tak sadar akan kebusukan diri.
Atau… jangan-jangan bukan bau ketek…. tapi karena mulut sama hidung aja yang letaknya terlalu dekat.