1. Ketuhanan yang Maha Esa
Sila ini menyatakan bahwa Tuhan itu esa, tunggal, satu. Seakan kurang puas, masih ditambahkan kata ‘Maha’ untuk menjelaskan kata ‘Esa’. Mungkin agar benar-benar jelas bahwa kebersamaan kita dalam Indonesia ini didasari keyakinan yang amat sangat bahwa Tuhan itu hanya ada satu. Maha tunggal.
Tuhan yang Maha Satu, Yang Maha Buwesar itu, yang dengan rahmatNya negara Indonesia ini bisa berdiri, adalah Tuhannya semua orang di seluruh negeri.
Mengapa ke-Tauhid-an dianggap Maha penting sampai-sampai dijadikan sila pertama dalam Pancasila? Saya rasa itu untuk menyadarkan dan menghindarkan kita dari bertengkar soal Tuhan siapa yang paling benar. Agar tak berdebat soal Tuhan siapa yang paling hebat.
Apapun agamanya, Tuhannya sama, itu-itu juga. Jadi tidak perlu ribut, tak perlu saling paksa dalam urusan itu. Urusan ritual bertuhan, urusan agama biar dalam ranah pribadi masing-masing. Negara menjamin dan melindungi kebebasan kita untuk itu.
Terhindar dari pertengkaran tentang konsep ke-Tuhan-an, maka kita semua, termasuk yang politheis, agnostik sampai yang atheis, bisa lebih fokus gotong royong untuk mewujudkan hal-hal yang lebih bermanfaat, yang sebenarnya juga sesuai dengan esensi perintah-perintah Tuhan, yaitu:
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Adil dan Beradabnya kemanusiaan ini seperti apa? Menurut saya adalah keadilan dan keberadaban yang sesuai dengan perkembangan jaman. Tidak mematok harga mati. Tapi selalu membuka diri dan berkembang sejalan dengan berkembangnya manusia. Tidak menutup diri dari nilai-nilai keadilan dan keberadaban yang baru.
Sedikit contoh,
Dulu jika ada perempuan diperkosa, korban tidak akan bisa menuntut sang biadab yang melakukannya jika tidak mampu menghadirkan empat orang terpercaya yang menonton perkosaan tersebut. Dulu hal begitu sudah dianggap adil banget. Sekarang? Jelas dianggap tak adil dan biadab, karena akal manusia jaman sekarang sudah tercerahkan. Ternyata perempuan tidak sekedar barang jajahan. Ternyata dia juga manusia yang punya hak hidup yang sama. Perkembangan teknologipun menghadirkan cara-cara baru, visum sampai tes DNA bisa dilakukan sebagai pembuktian.
Dulu pelaku pencurian dipotong tangannya. Bayi perempuan dimutilasi klitorisnya. Bayi lelaki dikupas penisnya. Saat itu, prilaku macam itu dianggap beradab, sehat dan relijiyus. Sekarang? Makin banyak yang menganggapnya biadab. Manusia sekarang mulai menyadari akibat buruk dari mutilasi organ tubuh. Mulai menghargai ciptaan Tuhan. Kemajuan teknologi memudahkan manusia untuk meluaskan wawasan, membantu manusia terbebas dari iman yang membabi buta terhadap tradisi.
Berprikemanusiaan yang Adil dan Beradab disini tidak terbatas pada sesama orang Indonesia saja, tapi juga terhadap manusia manapun tanpa peduli latar belakangnya. Juga tak terbatas pada mahluk jenis manusia saja, tapi juga terhadap alam dan semua mahluk yang ada didalamnya.
Tentu banyak contoh lain yang lebih relevan. Yang jelas, dengan menghayati dan mengamalkan sila ini, siapapun bisa jadi rahmat untuk semesta.
3. Persatuan Indonesia
Siapapun yang merumuskan sila 3 ini pasti sangat menyadari bahwa Indonesia punya keberagaman yang luar biasa parah. Di negeri ini terdapat banyak sekali perbedaan budaya, bahasa, agama dan dalam begitu banyak hal lain. Mengedepankan ego masing-masing, kita bisa saja terus ribut dan berperang mempermasalahkan perbedaan-perbedaan itu.
Sila 3 ini jadi bukti, ternyata kita memilih untuk bersatu. Ternyata kita sudah cukup cerdas untuk memahami bahwa keberagaman adalah hal tak terhindarkan, lalu memilih untuk menjadikan perbedaan itu sebagai berkah, bukan serapah. Memilih untuk saling mengapresiasi perbedaan, bersatu dalam gotong royong mewujudkan ideal-ideal bersama yang dirangkum dalam Pancasila.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Dalam setiap organisasi, apalagi organisasi yang akan melakukan perjuangan bersama, selalu dibutuhkan pemimpin. Sejak sebelum jaman nabi pun sepertinya manusia telah menyadari ini. Sila ini mengisyaratkan kepemimpinan perwakilan. Demokrasi.
Demokrasi macam apa? Apakah Ala Amerika? Ala Soeharto? Ala Neolib? Ala Saudi? Eh.. yang terakhir itu bukan termasuk demokrasi ya :)
Harusnya demokrasi yang kita pakai adalah demokrasi Pancasila. Dimana gerak setiap perwakilan, setiap pertimbangan, setiap keputusan, semuanya sejalan dengan Pancasila.
5. Keadilan Sosial bagi SELURUH Rakyat Indonesia
Jika setiap warga melaksanakan 4 sila diatas, jika setiap pilihan hidupnya dijiwai Pancasila, pasti negara ini segera mencapai sebuah keadaan yang disebut dalam sila terakhir ini.
Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimana yang menikmati keadilan sosial tidak sebatas rakyat yang dekat penguasa atau rakyat segelintir penguasa modal saja, tapi seluruh warga. Seluruh rakyat.
- – -
Poin-poin diatas dibuat berdasarkan pemahaman saya pada saat saya menulisnya. Sambil melirik wiki. Walau begitu, saya tetap membuka diri terhadap pemahan baru, yang mungkin saja, sebagian akan berasal dari pemikiran anda. Ehm, memangnya pemahaman anda tentang Pancasila bagaimana?
Menurut anda, apakah prilaku pemerintah selama ini sudah sejalan dengan Pancasila, atau malah berlawanan? Adakah yang akan anda lakukan terkait hal itu?
Diimpor secara otomatis dari sini.


Sila 4 rekursif ke Pancasila ya? Setelah rekursif berhasil, hasilnya sila 5 dapat terwujud ya?
*garuk2*
Pemahaman saya baru segitu Pak, silakan kalau mau bantu menjelaskan. Terimakasih:)
*sodorin alat garuk2 impor dari RRC*
.
Pancasila Hanyalah Alat Rezim Orba…. ;)
Ayolah, seorang Mbel pasti bisa melihat lebih dalam dari itu. Jaman ORBA tampaknya memang Pancasila sebatas itu, bahkan sila pertama pun dipelintir jadi sekedar alat pembatasan jumlah agama yang diridhoi pemerintah.
Pancasila sendiri sudah ada jauh sebelum ORBA, lha yang itu yang sedang dibicarakan diatas. Saat ini saya rasa perlu banget merefresh pemahaman kita tentangnya. Gimana? Sudi kasih komen yang lebih “Mbelgedez”?
ini sih komen skeptis orang yang terlalu banyak kencan sama cewek dibawah umur.
*kabur abis bikin pitnah*
waduh, kok komennya engga lansung ngequote ya Guh?
aku kayak ngomentarin kamu gituh…
err…
bisa dieditkan?
Sepertinya harus ganti them lagi inih. Ganti apa lagi ya.
pancasila perlu di refres? knapa ga diganti aja sekalian!
demokrasi pancasila itu seprti apa sih? jelas terbukti gagal ko masih dibela2!
Diganti pakai apa Pak Made? Ada ide?
Tolong sertakan penjelasannya gimana, sepertinya menarik tuh.
Kalo bisa argumennya jangan sampai seperti orang yang mengatakan agama dan tuhannya sekalian sudah gagal, karena puluhan nabi diturunkan, agama-agama diciptakan, tetap tak berhasil mencapai yang dicitakan.