Biasanya, yang terjadi mirip seperti ini…
Kang Atheis (KA): Hey Theis, ngapain apa kamu nungging lima kali sehari demi menyenangkan tuhan? Capek-capek nungging, jidat item, padahal tuhan tidak pernah ada. Benar-benar sia-sia. Haha!
Bang Theis (BT): Ah, dasar kafir. Jika tuhan memang tidak ada, aku hanya rugi sebanyak 5x nungging tiap. Tapi kalau tuhan ada? Dengan 5x nungging saya masuk surga, sedangkan kamu hei kafir, seluruh hidupmu akan sia-sia, dan setelah mati nanti kau akan terbakar dalam neraka selamanya. Hahahaha!!
Skenario seperti diatas mungkin efektif untuk membungkam Kang Atheis. Jawaban sejenius itu akan membuat dia kehilangan selera untuk berdebat lebih lanjut.
Mungkin sambil menyingkir, Kang Atheis bingung, karena ternyata Bang Theis beribadah seperti orang berjudi. Atau mungkin, malah terinspirasi untuk ikut membuat agama baru yang mengganti ritual nungging dengan “harus transfer uang sekian persen dari pendapatan atau digoreng di neraka selamanya.”
Ini terlalu beresiko. Cara membungkam seperti itu tidak hanya membuat aksi Bang Theis jadi tampak kurang suci (karena seperti sedang berjudi), tapi juga bisa menciptakan ancaman dari agama baru, jika ternyata si Atheis terinpirasi untuk membuat agama yang lebih komersil, dan berhasil mencari umat.
Berikut ini skenario lain yang saya rasa lebih aman untuk mengatasi pertanyaan/pelecehan dari Kang Atheis.
Kang Atheis (KA) : …..(pembukaan penuh pelecehan)… Tuhan itu tidak ada! Haha!
Bang Theis (BT) : Ah, saudaraku Kang Atheis. Apa maksudmu? Tuhan seperti apa yang kau maksud?
KA : Ya Tuhan yang sedang kau sembah itu! Yang Maha ini itu, bla bla blah … (menjelaskan konsepnya tentang sifat-sifat tuhan).
BT: Oooh… Sekarang tutup matamu. Saat kau menceritakan Tuhan seperti yang barusan itu, pasti sambil membayangkanNya kan? Darimana bayangan yang sedang kau ceritakan itu berasal? Dari dalam kepalamu kan? Dari pikiranmu kan?
KA: Eh… Iya sih.. Trus kenapa?
BT: Welcome to the club! Tuhan itu ADA. Mungkin kamu tidak mengakuinya. Tapi jelas Dia ada dalam kepalamu, dalam pikiranmu. Hahaha!
KA: Hei, tunggu dulu…!
BT: Biarkan saya selesai bicara. Dengarkan. Sebenarnya kamu sama saja dengan kami. Sama-sama mengakui adanya Tuhan. Malah kamu justru jauh lebih sopan dibanding sebagian dari kami.
KA: Lho, maksudnya?
BT: Coba perhatikan, diantara kami yang meyakini adanya Tuhan, sebenarnya juga belum sepakat dimana dan bagaimana dia sesungguhnya. Ada yang sekadar menganggapnya begitu jauh, lalu berdoa dengan tengadah menghadap langit, bahkan saat berada dalam ruangan. Ada pula menganggapnya tuli, jadi berdoapun harus dengan pengeras suara yang volumenya distel maksimal sampai tetangga sekitar terancam tuli. Ada yang menganggapnya hanya bisa dijangkau melalui calo, lalu mulai komunikasi (satu arah) melalui calo-calo yang tidak gratis. Ada pula yang menganggapnya sekedar tukang cuci dosa, mereka berdoa disaat merasa perlu mencuci dosa, lalu setelahnya langsung kembali berbuat jahat. Yang mengerikan, banyak juga yang menganggapnya Maha Bengis dan menyukai aksi peledakan diri, lalu menjadi teroris dan membunuhi orang-orang.
KA: *garuk-garuk* Arahnya kemana ini pembicaraan?
BT: Nah, dibandingkan sekian banyak anggapan para Theis terhadap Tuhan, bisa-bisanya kau bangga dengan hanya mengatakannya TIDAK ADA diluar sana, tapi ADA dalam kepalamu? Hahahaha… Itu masih terlalu sopan bung! Sangat-sangat terlalu sopan. Sudah, pergi sana, tidak usah meributkan hal-hal yang tidak penting.
Silakan bayangkan apa yang akan terjadi dengan Kang Atheis. Tidak hanya terbungkam dan menyingkir. Mungkin dia juga akan gelisah dan berkeringat dingin, karena Tuhan yang selama ini disangkalnya dengan jumawa, ternyata telah lama nongkrong dan bersarang dalam kepalanya.
Begitulah.
Ada skenario yang lain lagi? Mungkin yang lebih mendamaikan suasana. Dan lebih efektif untuk membungkam para atheis lain yang mungkin agak lebih kritis.


Salamun alaikum..
sebenarnya atheis pun berTuhan,,
pada egonya, Mr.Chance dan Ms.Chaos…
btw ada hal menarik yang ingin saya kutip dari artikel diatas..
Kang Atheis (KA): Hey Theis, ngapain apa kamu nungging lima kali sehari demi menyenangkan tuhan? Capek-capek nungging, jidat item, padahal tuhan tidak pernah ada. Benar-benar sia-sia. Haha!
Bang Theis (BT): Ah, dasar kafir. Jika tuhan memang tidak ada, aku hanya rugi sebanyak 5x nungging tiap. Tapi kalau tuhan ada? Dengan 5x nungging saya masuk surga, sedangkan kamu hei kafir, seluruh hidupmu akan sia-sia, dan setelah mati nanti kau akan terbakar dalam neraka selamanya. Hahahaha!!
Bang Truthse3ker (BT3) : Ah BT, gimana kalau Tuhan gak pernah nyuruh kamu nungging 5x sehari? udah yakin itu yang Tuhan mau? bukankah mengada2kan sesuatu atas nama Tuhan itu berbahaya? gimana kalu kegiatan nungging itu gak pernah ada perintahnya? dah cape2 nungging 5x sehari ternyata gak berguna sama sekali dan bisa dianggap dianggap kemusyrikan, hayooo… kalo si KA sih diemin aja, lah dia gak percaya Tuhan, dia gak mungkin masuk surga karena dia sendiri gak percaya adanya surga.. berarti masuknya ke…. hiiiiiiiii…
sekian.. mohon maaf bila ada yang tersinggung..
Cara membungkam atheis? Ledakkan saja mereka..
>:)
Tambahan lagi dari BTG: “Aiiih, ada afa ini ribud-ribud? Emang kalian semua yakin kalo yang kalian anggap asli dari Tuhan itu bener-bener masih asli langsung dari Tuhan?”
Trus BTX ikutan nongol: “Ehem… ikutan dong… ini semua memperdebatkan apa? Dari jaman nenek perawan sampai sekarang, ada ga yang memperdebatkan iman lalu mencapai sebuah kesimpulan?
Dan semua orang tergoda untuk bersepakat menendang BTX keluar dari arena :P
Btw, tentang ego, saya yakin itu akan sangat berpengaruh dalam mengisi titik-titik di akhir kalimat si KA sih diemin aja, lah dia gak percaya Tuhan, dia gak mungkin masuk surga karena dia sendiri gak percaya adanya surga.. berarti masuknya ke…. hiiiiiiiii…
Btw, bicara tentang ego, saya yakin itu akan sangat berpengaruh dalam mengisi misteri di kalimat ini:
Mau diisi pakai ego religius, ego atheis, ego theis atau ego apa? Hehe.
Dan memang, yang namanya ego, apapun itu biasanya mudah tersinggung. Pengalaman pribadi :P
Aneh, dia kan jelas2 bilang tuhan ga ada, kok malah dibilang ada tuhan dalam kepalanya???
Dimulut memang bilang tidak ada. Tapi saat ditanya konsepnya tentang tuhan, Kang Atheis bisa menjelaskan.
Logika bang theis menyimpulkan, berarti dalam batok kepala Kang Atheis terdapat konsep tentang tuhan. Masalah mulutnya mau ngomong apa, kenyataanya konsep tentang Tuhan itu sudah nangkring dalam kepala Kang Atheis, wujudnyapun begitu jelas sampai Kang Atheis bisa menceritakan.
Semakin ke bawah, paragraf kalimatnya terpotong-potong.
Bacanya jadi kurang nikmat, serasa nonton film terpotong iklan ;)
Wah, saya tak menyadari itu. Mungkin tak sengaja panjangnya kalimat menyesuaikan dengan tarikan napas. Makin kebawah makin tersengal-sengal, hehe.
Pernah suatu ketika Imam Abu Hanifah akan mendatangi seorang atheis…. dengan terlambat…
lalu Atheis itu bertanya kenapa kamu terlambat?
dijawab oleh Imam Abu Hanifah : Aku tadi terpesona melihat sebatang pohon terpotong2 sendiri , lalu tersusun sendiri menjadi sebuah perahu, lalu perahu itu berlayar dan kembali. lalu perahu itu kembali menjadi pohon…
Atheis : dasar tolol, mana ada pohon berubah sendiri menjadi perahu…
Imam Abu Hanifah : yang tolol itu siapa? Kau menganggap Alam semesta ini ada dengan sendirinya tanpa ada Tuhan (Allah ) yang menciptakannya….
Atheis : …….#%^#*^$^#*^%^…………
Lalu gimana pak, setelah kita berhasil membungkam para atheis rapat-rapat, apakah kita merasa puas?
Bagaimana kepuasan dari hal seperti ini bisa bermanfaat pada kualitas kita sebagai manusia yang dianjurkan agar jadi berkah bagi semesta alam?
sadar atau tdk..kita semua ada dlm sebuah skenario tuhan…termasuk perdebatan di atas….tp jarang yg membahas..kenapa tuhan membuat skenario ini….
Spiritual dan dalam sekali pertanyaannya Pak. Saya jadi ingin ikut bertanya-tanya, kenapa ya?
Btw Pak, pertanyaan sedalam itu tentunya didasari keyakinan bahwa tuhan ada, beliau yang membuat skenario. Jadi sebelum jauh sampai membahas itu, menarik juga membahas kenapa Pak Hzanic sampai pada keyakinan bahwa tuhan ada, dan beliau yang bertanggung jawab atas segala skenario. Sekedar katanya kitab/orang? Atau berdasarkan pengalaman pribadi karena sudah bertemu. Nah, share itu mungkin bisa membuat orang ikut bertanya-tanya dengan sadar :)
Semua yang ada pasti ada yang menciptakan.
lalu,kalau Tuhan itu ada,siapa yang menciptakan Tuhan?
semua yang ada, pasti ada yang menciptakan.
Lalu, kalau Tuhan ada, maka siapa yang menciptakan Tuhan…???
mmm…. pastilah tuhannya tuhan.
@Chuzielow: Kalau menurut Nietzsche, yang menciptakan Tuhan yaa kita. Maka apabila memakai logika, “Semua akan kembali ke penciptaNya” Maka kita berhak pula membunuhnya. Jadi apapun jawaban pertanyaan anda, pasti akan dijawab oleh logika dan pendekatan si penjawab dalam menjawab pertanyaan itu. Contohnya: yang suka koding, pasti pakai konstruksi If-Then(-Else). Yang suka reliji, akan memakai buku sejarah bernama kitab suci. Yang suka bla-bla-bla akan memakai metode bla-bla-bla pula sebagai metode jawabannya (*catatan: bla-bla-bla dapat di isi sendiri*).
Hmm, jadi jawaban dari pertanyaan soal itu… akan berbeda-beda bergantung pada bagaimana kesukaan si penjawab ya Bang?
Trus kenapa ada jawaban-jawaban yang dipaksakan, dan ada yang tidak?
Jadi… Bagaimana caranya supaya jawaban kita bisa dipaksakan pada orang lain agar meramaikan dunia dengan kekacauan? hehe.
When did I realize I was God? Well, I was praying and I suddenly realized I was talking to myself.
– Peter OToole
Itu kan Peter OToole, kalau Pater Mansup gimana?
Di fakultas filsafat, sekelompok mahasiswa sedang mengikuti kuliah. Dosen sedang melempar topik diskusi tentang Tuhan.
“Ada yang pernah melihat TUHAN?” tanya si dosen.
Semua diam tak mendengar.
“Ada yang pernah mendengar TUHAN bersuara?” si dosen bertanya lagi.
Kali ini pun tidak ada yang menjawab.
“Ada yang pernah menyentuh TUHAN?” tanya dosen.
Semua diam.
“Jadi….,” kata sang Dosen dengan senyum puas,:Kesimpulannya, TUHAN ITU TIDAK ADA.”
terdengar gumaman protes, sampai akhirnya Momon yang juga mengikuti kuliah tersebut berdiri dan bertanya,
“Ada yang pernah melihat OTAK pak Dosen?”
Tak ada jawaban.
“Ada yang pernah mendengar OTAK pak Dosen bicara?”
tak seorangpun menjawab.
“Ada yang pernah menyentuh OTAK pak Dosen?”
Sekali lagi hening.
“Kesimpulannya PAK DOSEN NGGAK PUNYA OTAK,”kata Momom sambil ngeloyor meninggalkan ruang kuliah.
Ini salah satu versi kisah lanjutannya:
Seluruh mahasiswa tiba-tiba tercerahkan, mereka tidak sudi diajar oleh dosen-dosen yang tidak punya otak. Beberapa dari mereka mulai membawa kampak ke kampus. Setiap dosen yang mau ngajar, dibelah dulu kepalanya untuk memastikan apakah ada otaknya :)
ikutan em-1 aaah…
“Ada yang pernah melihat OTAK em-1?”
Tak ada jawaban.
“Ada yang pernah mendengar OTAK em-1 bicara?”
tak seorangpun menjawab.
“Ada yang pernah menyentuh OTAK em-1?”
Sekali lagi hening.
“Kesimpulannya EM-1, yang komen sebelum saya itu: NGGAK PUNYA OTAK,”kata Chiw sambil kemudian tekan enter dan ctrl+W
Saya juga bisa mempertanyakan apakah ada lambung dalam perut saya.
Atau apakah ada cinta dalam hati… eh, yg ini nggak nyambung ya, hehe.
Tapi dengan berbekal teknologi, kita bisa melihat apakah ada otak dalam sebuah batok kepala, atau apakah masih ada lambung di perut saya. Misalnya dengan sinar X.
Yang masih jadi masalah, cara membuktikan keberadaan Tuhan ini… gimana caranya ya?