Iman adalah percaya sebelum melihat. Meyakini sesuatu tanpa mengalami sendiri. Lalu menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.
Pemahaman diatas saya dapat dari membaca blog Dee yang meragukan keyakinan kita pada esa-nya Tuhan. Berdasarkan pengalaman saya, definisi iman seperti itu memang benar.
Dalam hal beragama, kita sama-sama tahu bagaimana orang berani meyakini sesuatu hanya berdasarkan “katanya”. Tanpa mengkritisi, tanpa berpikir lagi, menelan mentah-mentah. Sialnya, ke-iman-an seperti diatas juga terjadi dalam agama yang isi kitabnya sering menganjurkan (dengan tegas) untuk “berpikir” dan “memperhatikan”.
Tidak sebatas soal agama. Aksi ber-iman juga kita terapkan dalam mimpi politik. Misal, saat meyakini bahwa khilafah akan menyelesaikan segala masalah kemiskinan lahir batin akibat penjajahan yang dilakukan oleh para penindas. Banyak dari kita percaya dan mendukung begitu saja, bahkan tanpa mau tahu hal-hal mendasar seperti: Calon khalifahnya siapa? Asalnya dari mana? Prilakunya seperti Nabi, atau Nazi? Bagaimana caranya bisa solutif? Potong tangan?
Tetap percaya bahkan saat yang mengajukan ide khilafah adalah orang-orang yang gemar memaksakan iman. Gemar menjajah mental, spiritual dan nalar. Entah kenapa, banyak dari kita tetap meng-iman-i, meyakini bahwa idenya untuk meraih kekuasaan dengan menunggangi agama itu akan membawa kebaikan.
Ok, biar fair. Demokrasi juga hanya iman. Iman yang agak sedikit parah.
Kita sama-sama tahu bahwa kedaulatan rakyat yang dijanjikan oleh sistem demokrasi (manapun) sebenarnya cuma ilusi. Rakyat yang katanya berdaulat lebih sering (dipastikan) tidak terlibat dalam setiap pengambilan keputusan.
Setelah memilih presiden mie instan dibawah pengaruh hipnotis “neuro advertising”, sebenarnya rakyat yang katanya berdaulat ini sudah tidak lagi punya kekuatan.
Sang terpilih bisa mengangkat sales agama untuk jadi menteri pendidikan tanpa melibatkan rakyat. Bebas memutuskan untuk menenggelamkan negara dalam hutang tanpa melibatkan rakyat. Bebas menandatangani perjanjian-perjanjian gila untuk mengobral kekayaan alam ke pihak asing tanpa melibatkan rakyat. Bebas untuk memenjarakan mahasiswa yang membakar foto presiden tapi membiarkan ulama-ulama makar yang ingin mengganti konstitusi.
Kabinet? DPR? Ah, masihkah anda yakin beliau-beliau itu berpihak pada rakyat? Tapi ya saya membuka diri terhadap kemungkinan adanya orang-orang di DPR yang seperti itu.
Demokrasi memang masih sebatas iman. Tapi itu pilihan terbaik saat ini. Dalam sistem bernegara seperti ini saya bisa menulis begini tanpa dipenjara. Segelintir ulama bisa bebas kumpul teriak ngajak makar tanpa kuatir presiden yang peragu bakal berani melakukan sesuatu. Dalam sistem seperti ini, mahasiswa yang ditangkapi juga punya kemungkinan lebih besar untuk dilepas lagi.
Mungkinkah kebebasan seperti ini bisa terjadi dalam sistem khilafah, komunis, teokrasi atau apapun yang tidak demokratis?
Agama sudah, politik sudah, dalam hal apalagi kita bisa ber-iman? Dalam hal apalagi saya bisa ber-sok tahu dan mengaitkannya dengan Iman?
Ah, Cinta. Tentu saja. Tapi silakan anda saja pikirkan saja sendiri. Saya tidak tertarik membahas hal yang menyebalkan itu.
Eh… sebelum melanjutkan aktivitas, ada yang perlu dipertanyakan.
Jika iman adalah mempercayai bahwa sesuatu sebagai benar tanpa bukti. Lantas apa namanya jika tetap mempercayai bahwa sesuatu adalah benar walau kenyataan membuktikan sebaliknya?
Jika membaca teliti sampai sini, mustinya sekarang anda sudah tergoda untuk menghakimi tulisan ini, mungkin sekalian sama penulisnya juga. Monggo.


Jika:
Bisakah disebut fanatik? Atau fundamentalis?
Hehe, ada kata yang lebih halus dan tidak menyinggung perasaan ndak.
fanatik mungkin iya, tetapi jika saja untuk sesuatu yang kenyataan terbukti, salahkah menjadi fanatik? kemudian disebut fanatik juga kan? lagi-lagi saya masih bingung dengan peristilahan, yah saya akui saja pengetahuan saya mmg masih cetek. apakah ada yang salah dengan sesuatu yang fundamental? saya rasa jawabnya masih “tergantung” kan. kemanakah arah nilai untuk sebuah sebutan “fundamentalis”? CMIIW
IMHO, sebutan yang lebih tepat dan halus untuk yang masih mempercayai seseuatu adalah benar walau kenyataan membuktikan sebaliknya adalah “bodoh”. lagi2, sejauh mana kita masing2 mampu membuktikan kenyataan? -sendirian- .hehe. lieur
Salamun alaikum om.. :p
iman memang sering dipakai sebagai pelarian belaka tanpa mengerti arti iman itu sendiri..
ketika sudah dipojokkan, keluarlah alasan “misteri” dan “iman”
sekian..
Setahu saya, menjadi fanatik itu sama dengan menjadi terlalu terobsesi, menutup diri dari pilihan-pilihan lain yang mungkin saja lebih baik. Menutup diri saja menurut saya rasanya jadi menghambat perkembangan diri. Soal cetek, ya sama laaah, hehe, saya mungkin lebih parah.
Fundamental, kalau diartikan sebagai nilai-nilai mendasar yang = kemanusiaan atau “menjadi berkah untuk alam semesta”, tentu artinya jadi bagus kan? Jadi ikut bingung.
Pembuktian “kenyataan”? Harusnya tidak rumit. Di uji dan diperhatikan saja. *mulai kehilangan arah* Hehe.
Salaam :)
Kalau menurut pemahaman anda, iman itu apa?
Maaf kalau diatas itu saya memahami “iman” sesuai pengalaman dan referensi yang tidak terlalu suci :P Silakan berbagi pemahaman yang lebih “benar”.
Salamun alaikum..
secara sederhana, iman itu berarti konviksi..
jadi ya keyakinan penuh didasari akal dan bukti2 kuat.. jadi berbeda jauh dengan sekedar “percaya”..
ada satu ayat yang ngungkit hal ini, saya lupa lagi sih, tapi kira2 seperti ini..
ada yang mengaku beriman pada Allah dan Rasul-Nya, tapi lalu Allah berfirman, tidak, kalian hanya menyerah, iman sama sekali belum masuk ke hati kalian, yah, mereka hanya percaya saja, tapi gak ada “iman”..
jadi iman lebih dari sekedar “percaya”..
iman bersifat lebih scientifik dari artian yang banyak beredar sekarang…
sekian..
Didasari akal dan bukti-bukti yang kuat. Tentunya bukti disini adalah bukti-bukti saintifik kan? Hmmm, menarik. Iman seperti itu jelas bukan iman yang membuta.
…dan akhirnya taklid? :)
ehm…
lah, sebelum proses “mendalami iman” saja kita sudah
dipaksadiminta bersaksi atas sesuatu yang kita sendiri belum tentu yakin itu ada enggak, bener enggak…sederhananya, kalo bisa, dibikin pembuktian secara saintifik agar imannya tersebut kebukti bener.
:mrgreen:
*ngumpet*
-fix-
argh. Guh, bisakah membantuku ngedit?
:(:(:(
itu maksutnya yang dicoret banyak itu blockquote, udah lama nggak ngeblog jadi salah skrip
:(
Done :)
terimakasih :-*
Pahami ja rukun iman….
Dah cukup tuk jawab semua tentang iman….
jangan bahas keimanan ma Allah dengan terlalu me-logis-logiskan semuanya….karna agama bukan suatu hal yang diadakan untuk di logiskan, tapi untuk dipercayai dan dijalankan….
logiskah bicara neraka dan surga???? percayakah itu ada ? atau saat terjapit, terpuruk, tertimpa reruntahan kayu busuk dan dilanda kesedihan baru percaya itu ada ?
ga ada pemaksaan dalam agama, yakin kah udah beragama bila masih ada dirasakan pemasaan atau keterpaksaan dalam menjalani aturan dan syariaat nya ? yakin? label KTP kali ya ??? (karna atheis ga boleh di INDONESIA TERCINTA ni)… check lagi deh keyakinannya…….yakin, taat dan percaya, bukan fanatik atau pun fundamental apa kek bunyinya…….
Rukun Iman. Tuh, iman lagi kan. Ada rukunnya pula.
Kebetulan salah satu arah iman dalam rukun itu adalah Qur’an, dan kebetulan Qur’an menganjurkan pakai akal. Gimana dong?
Btw, menghakimi keyakinan orang itu menyenangkan ya? :)
Salamun ‘alaikum..
Kita harus menggunakan selalu akal kita
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan pikiran, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (17:36)
Menjadi pengikut buta atau sekedar PERCAYA tidak diperbolehkan dalam Al-Qur’an, dan malah hal tersebut merupakan salah satu tanda kekafiran
“Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti mereka yang MENGULANG (Yan’iq) hanya apa yang mereka dengar melalui seruan dan panggilan saja, tanpa mengerti. Mereka tuli, bisu dan buta, mereka tidaklah mengerti.” (2:171)
Lebih lanjut lagi, berpikir adalah syarat untuk memahami pesan2 Allah
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka BERPIKIR.” (59:21)
Dan terakhir, memang TIDAK BOLEH ADA pemaksaan dalam agama
“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ ” (18:29)
Allah menyuruh Rasul untuk mengatakan hal ini, Allah saja membebaskan siapapun untuk percaya atau tidak, lalu kenapa para manusia yang mengaku sebagai “Hamba Allah” malah memaksakan syariat dan hukum2 “Islam” (versi mereka)? apa mereka merasa sebagai Agen Tuhan??
sekian..
NB : maaf mas, tapi saya suka gatel kalo liat comment seperti comment yang diatas..
Terimakasih bang Truth, Saya selalu lega setiap kali ada yang bisa menjelaskan bahwa agama tidak melulu menganjurkan pembodohan dengan melarang kegiatan berpikir. Apalagi lengkap dengan ayat-ayat sebagai pembenaran.
Semoga Bang Truth selalu bersemangat menyampaikan ayat-ayat yang biasanya disensor itu, biar orang-orang yang gemar menggunakan agama sebagai alat pembodohan tidak terlalu berhasil :)