17 Comments

  1. Emanuel Setio Dewo

    Jika:

    Jika iman adalah mempercayai bahwa sesuatu sebagai benar tanpa bukti. Lantas apa namanya jika tetap mempercayai bahwa sesuatu adalah benar walau kenyataan membuktikan sebaliknya?

    Bisakah disebut fanatik? Atau fundamentalis?

  2. guhpraset

    Hehe, ada kata yang lebih halus dan tidak menyinggung perasaan ndak.

  3. Madra

    fanatik mungkin iya, tetapi jika saja untuk sesuatu yang kenyataan terbukti, salahkah menjadi fanatik? kemudian disebut fanatik juga kan? lagi-lagi saya masih bingung dengan peristilahan, yah saya akui saja pengetahuan saya mmg masih cetek. apakah ada yang salah dengan sesuatu yang fundamental? saya rasa jawabnya masih “tergantung” kan. kemanakah arah nilai untuk sebuah sebutan “fundamentalis”? CMIIW

    IMHO, sebutan yang lebih tepat dan halus untuk yang masih mempercayai seseuatu adalah benar walau kenyataan membuktikan sebaliknya adalah “bodoh”. lagi2, sejauh mana kita masing2 mampu membuktikan kenyataan? -sendirian- .hehe. lieur

  4. truthse3ker

    Salamun alaikum om.. :p

    iman memang sering dipakai sebagai pelarian belaka tanpa mengerti arti iman itu sendiri..
    ketika sudah dipojokkan, keluarlah alasan “misteri” dan “iman”

    sekian..

  5. guhpraset

    Setahu saya, menjadi fanatik itu sama dengan menjadi terlalu terobsesi, menutup diri dari pilihan-pilihan lain yang mungkin saja lebih baik. Menutup diri saja menurut saya rasanya jadi menghambat perkembangan diri. Soal cetek, ya sama laaah, hehe, saya mungkin lebih parah.

    Fundamental, kalau diartikan sebagai nilai-nilai mendasar yang = kemanusiaan atau “menjadi berkah untuk alam semesta”, tentu artinya jadi bagus kan? Jadi ikut bingung.

    Pembuktian “kenyataan”? Harusnya tidak rumit. Di uji dan diperhatikan saja. *mulai kehilangan arah* Hehe.

  6. guhpraset

    Salaam :)

    Kalau menurut pemahaman anda, iman itu apa?

    Maaf kalau diatas itu saya memahami “iman” sesuai pengalaman dan referensi yang tidak terlalu suci :P Silakan berbagi pemahaman yang lebih “benar”.

  7. truthse3ker

    Salamun alaikum..

    secara sederhana, iman itu berarti konviksi..
    jadi ya keyakinan penuh didasari akal dan bukti2 kuat.. jadi berbeda jauh dengan sekedar “percaya”..

    ada satu ayat yang ngungkit hal ini, saya lupa lagi sih, tapi kira2 seperti ini..
    ada yang mengaku beriman pada Allah dan Rasul-Nya, tapi lalu Allah berfirman, tidak, kalian hanya menyerah, iman sama sekali belum masuk ke hati kalian, yah, mereka hanya percaya saja, tapi gak ada “iman”..

    jadi iman lebih dari sekedar “percaya”..
    iman bersifat lebih scientifik dari artian yang banyak beredar sekarang…

    sekian..

  8. guhpraset

    Didasari akal dan bukti-bukti yang kuat. Tentunya bukti disini adalah bukti-bukti saintifik kan? Hmmm, menarik. Iman seperti itu jelas bukan iman yang membuta.

  9. suraja

    …dan akhirnya taklid? :)

  10. chiw

    secara sederhana, iman itu berarti konviksi..
    jadi ya keyakinan penuh didasari akal dan bukti2 kuat.. jadi berbeda jauh dengan sekedar “percaya”..

    ehm…
    lah, sebelum proses “mendalami iman” saja kita sudah dipaksa diminta bersaksi atas sesuatu yang kita sendiri belum tentu yakin itu ada enggak, bener enggak…

    jadi iman lebih dari sekedar “percaya”..
    iman bersifat lebih scientifik dari artian yang banyak beredar sekarang…

    sederhananya, kalo bisa, dibikin pembuktian secara saintifik agar imannya tersebut kebukti bener.
    :mrgreen:

    *ngumpet*
    -fix-

  11. chiw

    argh. Guh, bisakah membantuku ngedit?
    :(:(:(

    itu maksutnya yang dicoret banyak itu blockquote, udah lama nggak ngeblog jadi salah skrip
    :(

  12. Ya2N^_^

    Pahami ja rukun iman….
    Dah cukup tuk jawab semua tentang iman….

    jangan bahas keimanan ma Allah dengan terlalu me-logis-logiskan semuanya….karna agama bukan suatu hal yang diadakan untuk di logiskan, tapi untuk dipercayai dan dijalankan….

    logiskah bicara neraka dan surga???? percayakah itu ada ? atau saat terjapit, terpuruk, tertimpa reruntahan kayu busuk dan dilanda kesedihan baru percaya itu ada ?

    ga ada pemaksaan dalam agama, yakin kah udah beragama bila masih ada dirasakan pemasaan atau keterpaksaan dalam menjalani aturan dan syariaat nya ? yakin? label KTP kali ya ??? (karna atheis ga boleh di INDONESIA TERCINTA ni)… check lagi deh keyakinannya…….yakin, taat dan percaya, bukan fanatik atau pun fundamental apa kek bunyinya…….

  13. Truthse3ker

    Salamun ‘alaikum..

    Kita harus menggunakan selalu akal kita

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan pikiran, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (17:36)

    Menjadi pengikut buta atau sekedar PERCAYA tidak diperbolehkan dalam Al-Qur’an, dan malah hal tersebut merupakan salah satu tanda kekafiran

    “Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti mereka yang MENGULANG (Yan’iq) hanya apa yang mereka dengar melalui seruan dan panggilan saja, tanpa mengerti. Mereka tuli, bisu dan buta, mereka tidaklah mengerti.” (2:171)

    Lebih lanjut lagi, berpikir adalah syarat untuk memahami pesan2 Allah

    “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka BERPIKIR.” (59:21)

    Dan terakhir, memang TIDAK BOLEH ADA pemaksaan dalam agama

    “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ ” (18:29)

    Allah menyuruh Rasul untuk mengatakan hal ini, Allah saja membebaskan siapapun untuk percaya atau tidak, lalu kenapa para manusia yang mengaku sebagai “Hamba Allah” malah memaksakan syariat dan hukum2 “Islam” (versi mereka)? apa mereka merasa sebagai Agen Tuhan??

    sekian..

    NB : maaf mas, tapi saya suka gatel kalo liat comment seperti comment yang diatas..

    1. Guh

      Terimakasih bang Truth, Saya selalu lega setiap kali ada yang bisa menjelaskan bahwa agama tidak melulu menganjurkan pembodohan dengan melarang kegiatan berpikir. Apalagi lengkap dengan ayat-ayat sebagai pembenaran.

      Semoga Bang Truth selalu bersemangat menyampaikan ayat-ayat yang biasanya disensor itu, biar orang-orang yang gemar menggunakan agama sebagai alat pembodohan tidak terlalu berhasil :)

Leave a Reply

Ikuti lewat RSS

Tanggapan Terbaru

  • manusiasuper: …..gw bisa bilang yg nulis ini bukan pemain wafia wars. cuma orang bodoh dan...
  • manusiasuper: eh, bukan saya kan yang dimaksud? *geer*
  • a_yha: Numpang comment ya….. secara aqliyah (akal), kita dapat menganalisis kemungkinan...
  • qzink: Akhirnya pulang ke kubangan lama juga.. :D
  • bitch, the: sama-sama.
  • deendeen: “Ya Allah ampunilah hambamu yang hina ini”
  • Citra Dewi: NYaman adalah rasa. Karena mengejar RASA manusia jatuh dalam berbagai pencobaan...
  • macangadungan: halo mas guh, saya pribadi sih kurang puas dengan penjelasan mas dewo yg mbulet...
  • macangadungan: pertama, saya telah mendownload PDF dari buku yg anda bahas disini… dan...

awasi twitter guh