Masih tentang Ora Ilok

Masih ingat kisah yang kemarin?

Ibu dan anak bertengkar soal tradisi. Si ibu ngotot memaksakan “ora ilok”nya. Si anak menyangkal dengan logikanya.

Dari puluhan yang membaca, rasanya belum ada yang serius berbagi solusi untuk mereka. Jadi terpaksa, sekarang saya sendiri yang harus melakukannya.

-

Terlebih dahulu, coba memahami keadaan si Ibu. Fenomena “Ora ilok” yang beliau paksakan ini sebenarnya umum sekali. Orang tua jadul sering mentabukan banyak hal tanpa mampu menjelaskan alasannya. Mereka sendiri mungkin benar-benar tidak tahu, karena pada saat mereka menerima ajaran itu, mungkin dalam keadaan kurang kritis. Hanya ditakut-takuti dengan “awas pamali” atau “ora ilok” sudah langsung patuh, nurut lahir batin. Tidak ada pertanyaan kenapa begini kenapa begitu.

Generasi jadul memang suka sekali memanfaatkan rasa takut untuk memaksakan keinginannya. Mereka bahkan menciptakan lagu intimidatif untuk menteror anak-anak kecil yang sulit tidur. Kalau tidak salah liriknya begini: “Hwoooo Niina Boboooo, Kalau tidak bobo digigit nyamuk!!!” Anak-anak diancam, jika tidak tidur akan dimangsa sesuatu yang jahat. Nyamuk.

Diancam sedikit. Ditakut-takuti sedikit langsung manut. Keadaan seperti ini justru membuat banyak hal kehilangan esensinya. Tujuannya yang sebenarnya baik jadi terlupakan. Lupa diajarkan karena si pengajar jadi lebih suka menakut-nakuti daripada repot menjelaskan alasan sesungguhnya. Ini mirip seperti pewarisan tradisi-tradisi dalam agama. Akhirnya yang tersisa hanya ritual tak bermakna yg dipaksakan turun temurun, dipatuhi karena rasa takut.  Nah, sang Ibu adalah produk pendidikan seperti itu.

Sekarang si Perawan. Ini anak produk jaman sekarang. Sehancur apapun dunia pendidikan kita, kadang-kadang bisa juga mencetak anak-anak yang nalarnya berkembang. Lumayan kritis. Tak mau menerima sesuatu begitu saja. Selalu saja minta penjelasan.

Sayangnya pendidikan yang sama tidak terlalu sukses dalam mencetak anak-anak yang apresiatif terhadap perbedaan. Sejak kecil, lewat pendidikan agama, kebanyakan dari kita diajar untuk merasa paling benar sambil melecehkan kebenaran yang diyakini oleh orang lain. Kalau bisa malah memaksa  orang-orang yang berbeda agar meyakini kebenaran kita. Ajaran macam ini mempengaruhi anda, saya dan semua anak-anak yang pernah sekolah.

Baru mulai belajar logis tapi disaat yang sama juga semakin tidak apresiatif. Semakin kaku. Ajaran-ajaran yang tampak tolol dan tak masuk akal, tidak hanya ditolak, mungkin juga akan dilecehkan dan diolok-olok. Nah, saya sendiri kadang terjebak mengamalkan pola pikir seperti ini :”) Dan saya menuduh, si gadis dalam cerita juga sama seperti saya.

Saat sang Ibu gagal menjelaskan alasannya. Hanya mampu berkata “POKOKNYA!…” Maka si anak justru tergerak untuk membangkang.

Bayangkan, betapa durhakanya ini anak dimata sang Ibu. Dengan kurang ajar menolak tradisi yang dihormati dan diwariskan turun-temurun, walau tanpa penjelasan yang tidak masuk akal.

Lalu siapa yang salah? Ah, daripada mencari siapa yang salah, lebih baik memikirkan apa yang dapat dilakukan agar suasana dapur jadi harmonis.

—-

Apakah yang dapat dilakukan? Membuka diri. Melenturkan hati. Berusaha memahami pihak yang berseberangan pendapat.

Kalau di posisi sang Ibu, saya akan berusaha memahami penolakan sang anak. Berusaha membuka diri pada pendapat dan cara berpikir baru. Membuka diri pada perubahan. Sekian puluh tahun usia yang sudah saya lalui tentu menyadarkan saya bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa sebab. Termasuk timbulnya sebuah anjuran. Pasti ada alasan. Dan alasan itu tentu tidak hanya rasa takut pamali atau dosa. Saya akan bertanya sendiri, apa esensi dari tradisi ini?  Nah, itulah yang perlu diwariskan.

Sedangkan kalau saya di posisi sang tuan puteri, saya berusaha memahami kenapa sang ibu memaksakan pendapatnya. Memahami betapa takutnya dia jika anaknya melanggar pamali. Memahami kasih sayang yang melatarbelakangi ketakutan itu. Memahami bahwa semakin tua, otak manusia semakin renta, hatinya juga semakin alot. Orang jadi semakin kaku, semakin sulit belajar hal baru. Belum lagi masalah ego. Jadi wajar sekali kalau yang muda harus mensyukuri kelenturan yang dimilikinya. Yang penting pertanyaan dan penolakan sudah disampaikan dengan jelas, kalau setelah itu tetap dipaksa, lakukan saja sambil menjelaskan bahwa itu hanya untuk menyenangkan sang Ibu tersayang. Siapa tahu, dalam beberapa hari, otak renta sang ibu berhasil memproses pertanyaan kita. Siapa tahu beliau jadi muda lagi karena otaknya diputar lagi.

—–

Cukup sekian beropini hari ini. Diatas barusan hanya teori belaka. Jika nanti saya mengalaminya sendiri, tentu saya akan bertindak sesuai kesadaran saya saat itu, kalau lagi cukup ya syukur.

Silakan jika anda ingin berbagi kebijaksanaan. Semoga hati dan pikiran kita semakin lembut dan apresiatif terhadap perbedaan.

Terimakasih sudah membaca dan ikut memikirkan.

11 Comments

  1. Generasi Patah Hati

    Ah memang kedua pihak harus saling memahami ya Guh.
    Dan sebab dari kenapa ora ilok juga harus diteliti , hehehe

  2. ujang

    jadi menurut anda pelajaran agama di sekolah2 sebaiknya di hapuskan?

  3. guhpraset

    Menurut saya sih gitu, syukurlah kalau setuju, hehe.

  4. guhpraset

    Waduh, kalau dihapuskan tentu banyak sekali yang akan meradang dan ngamuk-ngamuk. Bukan hanya yang takut kehilangan umat, tapi terutama yang akan kehilangan pendapatan.

    Mungkin tetap saja diajarkan, tapi bagian-bagian yang mengajarkan kebencian (kalau masih ada) disensor saja. Lalu tak perlu dikotak-kotakkan, biarkan semua anak belajar semua agama bersama-sama, ungkap sejarahnya masing-masing. Nah, kalau tertarik mempelajari lebih dalam, termasuk ajaran2 yang tadi disensor, bisa belajar diluar jam pelajaran sekolah.

    Menurut anda gimana? Kenapa kok berkesimpulan sebaiknya dihapuskan?

  5. ujang

    Kalo menurut saya sih bagusnya yaaa….dihapuskan :D, di ganti dgn pelajaran moral dan budi pekerti. Trus soal sejarah masing2 agama, mmhh…dimasukin aja ke pelajaran sejarah. Kalo mau belajar agama yaaa…belajar aja d rumah ibadah masing2, yang islam bisa belajar d taman pendidikan al-qur'an yg biasa diadain d mesjid2, yg kristen bisa belajar d gereja, yg budha bisa belajar d vihara, yg percaya kerajaan tuhan bisa belajar ke ibu lia eden :p, dllsb. Kenapa saya berkesimpulan sebaiknya dihapuskan? Ya kalo nyatanya pelajaran agama disekolah2 mengajarkan kebencian, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah/konflik, sumber perpecahan, kenapa tidak dihapuskan saja?

  6. guhpraset

    Mungkin bagus. Tapi saya masih belum setuju kalau itu dihapuskan. Nanti saya pikirkan dulu alasannya, lumayan untuk bahan update :P
    Terimakasih.

  7. chiw

    hehe… terimakasih sayang…

    saat itu sang tuan putri sepertinya memilih mengalah walo dengan kompensasi bibir yang mendadak bertambah panjang 5 senti.

  8. guhpraset

    Ah, Siwi sayang, tolong hentikan sayang-sayangan itu. Pacarmu mungkin bukanlah seorang pencemburu, tapi kalau terus begitu caramu memanggilku, bisa rusak berat pasaranku. Mohon toleran sedikit lah pada yang masih jomblo ini.

  9. Non Blogger

    bagus juga usulan Mang Ujang yo Mas Guh!
    tapi aku yakin kalo usulan itu diajukan dalam waktu dekat pasti menghasilkan penolakan… soalnya kebanyakan “calo partai” entah yang di MPR/DPR/DPRD belom bisa mikir sejauh kalian…
    tapi untuk Indonesia yang lebih baik kita gak boleh pesimis!

  10. Non Blogger

    bagus juga usulan Mang Ujang yo Mas Guh!
    tapi aku yakin kalo usulan itu diajukan dalam waktu dekat pasti menghasilkan penolakan… soalnya kebanyakan “calo partai” entah yang di MPR/DPR/DPRD belom bisa mikir sejauh kalian…
    tapi untuk Indonesia yang lebih baik kita gak boleh pesimis!

  11. guhpraset

    Berdasarkan pengalaman pribadi, dan mempertimbangkan kondisi masyarakat, menurut saya pendidikan agama justru harus tetap tersedia juga disekolahan.

    Kasus nyata: Seorang guru ngaji tradisional cerita pada saya, tentang pertanyaan muridnya yang bingung kenapa guru agama disekolah mengharamkan tahlilan, slametan, dan semacamnya. Katanya itu prilaku kafir tukang bid'ah. Ternyata guru disekolah ini sudah dikuasai oleh ajaran yang sok bener sendiri dan penuh kebencian, gemar sekali bagi-bagi cap haram dan mengkafirkan orang lain. Disini pemerintah gagal mengawasi prilaku guru-guru yang kurang ajar. Untung si murid masih punya second opinion. Dia masih bisa milih, Islam penuh kebencian yg gemar mengkafirkan, atau Islam yang Rahmat bagi semesta alam.

    Gimana kalau kejadiannya terbalik? Guru ngaji tradisional mengajarkan terror dan kebencian, sedangkan pelajaran agama disekolah sudah tidak ada? Mengerikan bukan?

    Jadi ya gitu, agama perlu diajarkan, tapi perlu diawasi secara ketat, ajarkan esensinya saja, ritual-ritual tak bermakna, ajaran2 kekerasan itu disensor, biar dipelajari diluar sekolah. Jangan dipisahkan pelajaran antar agama, jangan melatih anak untuk terkotak-kotak. Dan sejarah agama, semuanya, harus diajarkan secara blak-blakan, tanpa malu-malu. hehe, biar anak-anak tahu dan bisa menarik pelajaran dari situ.

Leave a Reply

Ikuti lewat RSS

Tanggapan Terbaru

  • tukang nonton: Ini komen “pembelaan”dari fren saya di pesbuk setelah saya suruh...
  • eMina: sehebat apa sih Mafia Wars? sampai saat kemarin saya belum tergerak untuk mencobanya atau...
  • Amd: *Kirim Energy Pack ke Guh* Hehehe, selalu ada hikmah di balik segala sesuatu, termasuk...
  • ralx: semua yang atheis harus pada mikir, itulah kekuasaan TUHAN, 1. kita tidak bisa melihat...
  • eMina: membuktikan kemahakuasaanNya cuma segitu? . selamat juga untukmu ^^
  • Emanuel Setio Dewo: Berarti cuma daku yg mudheng maksudnya bu A ya? *kabur sebelum ditanyain*
  • Emanuel Setio Dewo: Opsi yg lain: doanya dikabulkan, tapi delay (entah berapa lama delay-nya)...
  • arshintadewi: *sama*
  • Arshintadewi: Yang mudah itu justru sulit dimengerti *beneran*… Lagian lebih mudah...

awasi twitter guh