ILUSI NEGARA ISLAM adalah sebuah buku hasil penelitian diterbitkan bersama oleh Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, the Wahid Institute, dan Maarif Institute.
Buku ini berusaha menjawab beberapa permasalahan sebagai berikut:
- Bagaimana sebenarnya pandangan dan respon para agen garis keras terhadap isu-isu sosial politik dan keagamaan di Indonesia akhir-akhir ini?
- Bagaimana peta gerakan-gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia saat ini?
- Apa yang menjadi agenda perjuangan kelompok-kelompok garis keras dan bagaimana agenda itu dikaitkan dengan persoalan-persoalan Indonesia mutakhir?
- Bagaimana strategi kelompok-kelompok garis keras dalam memperjuangakan agenda-agenda mereka dan menyusupkan agen-agen mereka ke tengah-tengah masyarakat?
- Bagaimana hubungan kelompok-kelompok garis keras lokal dengan gerakan-gerakan Islam transnasional dari Timur Tengah?
- Bagaimana pula hubungan kelompok-kelompok garis keras itu dengan kelompok-kelompok Islam yang berhaluan moderat?
- Apakah kelompok-kelompok garis keras telah mampu mempengaruhi dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan NU?
- Benarkah masjid dan institusi-institusi pendidikan telah dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok garis keras untuk menyebarkan paham mereka?
- Bagaimana hubungan kelompok-kelompok garis keras dibangun dan bagaimana jaringan mereka dibentuk?
Jika anda penasaran bagaimana buku ini akan menjawab pertanyan-pertanyaan diatas, silakan beli di
toko buku/cafe 8, the Wahid Institute, Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Matraman Jakarta. Atau jika tidak mau beli, anda bisa download saja dalam bentuk PDF langsung dari penerbitnya (klik).
Agar berimbang, selain membaca buku itu, mungkin perlu tahu bagaimana suara dari pihak-pihak yang dirugikan:
Saya sendiri baru mulai (lagi) membacanya. Tadinya saya sudah malas setelah beberapa halaman pertama. Sekian ratus halaman, PDF pula!
Tapi setelah seorang teman FB tiba-tiba jadi emosional sampai mengatai Gus Dur sebagai lak***ullah hanya karena saya menanyakan pendapatnya soal buku ini, saya jadi tertarik lagi untuk meneruskan membaca buku ini sampai tamat.
Ok. Selamat membaca.


Saya pengen banget baca buku ini, versi yang asli tentunya, bukan yang PDF..
Terlepas dari kontroversi-nya, saya suka ide tentang bagaimana menjalankan syariat Islam di sebuah negri tanpa menjadikan negri ini negara Islam..
*klik pdf*
Salam.
Buku tersebut intinya hanya akan mengadu domba umat Islam. Islam Rahmatan Lil Alamin. Hanya mereka saja yang tidak paham akan Islam yang benci akan Islam. Kalau Negara Islam berdiri, seluruh penduduk dibawah naungan Pemerintah Islam akan dilindungi baik harta maupun jiwanya. Tanpa membedakan agama, ras, suku dan lain – lain. Itu berbeda ama pemerintah Indonesia, coba kita perhatikan banyak TKI dan Pelajar Indonesia di luar negeri yang tidak diperdulikan pemerintah Indonesia. Contohnya kasus pembunuhan David di singapura dan kasus kematikan TKI di negara tetangga lainnya. Kalau di Negara Islam, itu diusut sampai tuntas kalau tidak mau maka jawabannya PERANG. sebab telah menyakiti rakyat Negara Islam
Salam Ikatan Hacker Muslim Indonesia.
Dirjen Angkatan Darat Islam.
Ada alamat tokonya tuh, mungkin bisa beli dan minta delivery juga.
Setelah berhasil download jangan lupa dibaca ya Bu, jangan kayak saya, hehe.
Itu pendapat yang menarik dari orang yang sudah membaca sampai selesai. Bisa tolong dijelaskan bagian mana yang anda anggap mengadudomba? Konon dalam ajaran islam, kita tidak boleh menuduh tanpa bukti.
Wah terimakasih informasi link-nya. Akhirnya saya bisa download dan baca buku ini. Bagus sekali. Akhirnya saya mendapatkan peta yg semakin jelas tentang gejala yg sudah saya rasakan bertahun-tahun belakangan ini di Indonesia, yaitu puritanisasi Islam, makin berkembangnya intoleransi, bahkan sampai terorisme dan “jenggotisasi”, hehehe. Rupanya memang ada gelontoran petrodollar yg sedemikian besarnya untuk menyuburkan dan memuluskan proses puritanisasi dan jenggotisasi ini. Wow, makanya.. Dulu waktu saya kecil, nggak ada fenomena jenggot, garis keras, ngebom, dsb. Bahkan perempuan yg pakai jilbab juga amat jarang. Tapi suasana kehidupan beragama justru aman dan damai, lebih toleran. Sekarang, makin banyak yg berjenggot dan berjilbab kok makin gerah ya? Rupanya biang keladinya ada di geontoran petrodollar itu. Hmm… Menjadi tugas penting bangsa Indonesia yg multietnis, multikultur dan multiagama utk menjaga bhinneka tunggal ika.
Pernahkah anda terpikir, atau menduga-duga, apa yang akan didapat para pengucur petrodollar itu dari berhasilnya puritanisasi? Atau dengan kata lain, kira-kira kenapa mereka melakukan itu semua?
siipp pak, ini ada link tambahan yg meng-counter buku tsb. smoga bermanfaat.
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/ethical...
http://maduraimpiankita.blogspot.com/2009/05/pr...
Terimakasih linknya. Maaf, nyangkut di disqus (ternyata tidak hanya akismet yg suka sensor).
Btw, link-link counter itu, juga yang lain, kebanyakan hanya mempermasalahkan buku dan proses pembuatannya, tapi tidak ada yang niat membantah isinya, tidak menyangkal pesan yang dibawa buku itu. Sepertinya kenyataan yang terjadi malah sudah lebih parah dari apa yang diceritakan di buku ya?
Btw, sudah baca bukunya pak? Gimana?
saudara sigit , anda itu gimana ya….?
wanita pada pake jilbab itu bagus to…?
jilbab kan wajib, menutup aurat, mengurangi dosa pandangan dan peluang zina….
truz yang anda mau itu pake bikini…?
kebhinekaan akan tetap ada walaupun nanti (katakanlah) ada negara indonesia menerapkan syariah….
Anda kurang ilmu sih, dan kurang baca sejarah…
pd jaman rasulullah, kaum yahudi dan nasrani yang terikat perjanjian dilindungi dan haram hukumnya dibunuh….
jadi jangan seenaknya ngomong gitu….
justru yang bikin separatis negara ini adalah kepentingan asing… contoh timor-timur… (nah loh mayoritas agamanya apa?)
sekarang papua (OPM) . kasusnya papua justru karena adanya freeport, masyarakatnya tetep miskin…. siapa pemilik freeport ? Amerika….
sekarang gimana pengelolaan negara? pake demokrasi liberal… jadinya seperti ini…
orang yang menerbitkan buku ilusi negara islam itu LIBERAL . sponsornya LibForAll….
pernah baca sejarah indonesia…? pernah gagal karena menerapkan liberalisme, komunisme,….
yang belum pernah diterapkan itu syariah islam…. itu sudah terbukti berhasil pada jaman rasulullah hingga khalifah…..
Bahkan pernah ada khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam 2 tahun dapat mengentaskan kemiskinan, karena zakat….
Mayoritas indonesia ini muslim,, jadi wajar kalo pake nilai2 islam….
justru kalo pake nilai2 non islam malah bikin perpecahan Indonesia….
terima kasih…
mohon dilogika ya….
Jilbab wajib menurut anda, itu bagus. Tapi tidak perlu dipaksakan. Yang mau pakai silakan, yang tidak ya tak usah dipaksa. :)
Menurut saya, yang disesalkan pak Sigit itu adalah semakin berkurangnya toleransi antar agama, dia menduga ini ada kaitannya dengan jilbabisasi dan jenggotisasi. Gimana kalau anda juga komentari dugaan keterkaitan itu?
Mungkin sekalian dengan fenomena semakin banyaknya “perumahan muslim”, menurut anda bagaimana hal itu akan berpengaruh pada kerukunan antar masyarakat Indonesia yang sangat plural ini?
bagaimana menurut mas guh, menara yg memaksakan aturan aturan, termasuk pajak dll yg sifatnya mengikat dan memaksa artinya kalo tidak membayar pajar akan dihukum? knapa ya mereka Gusdur Cs tidak mengkritik hal demikian???
Menara yang memaksakan aturan-aturan? bisa dijelaskan maksudnya apa?
Soal gusdur, gimana kalau langsung ditanyakan pada mereka, apa benar mereka tidak mengkritisi hal macam itu dan apa sebabnya :)
negara maksudnya! knapa orang harus mbayar pajak/ aturan2 lain? kan itu pemaksaan, kalo nurut mereka Tuhan aja ga maksa, bagaimana negara (orang )bisa memaksakan kehendaknya thdp orang lain! nurut sampean gmn, soal negara yg memaksakan aturan2!
Orang harus bayar pajak, karena negara perlu uang untuk operasional. Tapi saya bisa saja salah, menurut anda kenapa?
Hukum negara, ini disepakati wakil-wakilnya untuk menjaga kerukunan, misal: negara melarang warganya membakar mesjid tetangga hanya karena beda mazhab. Atau melarang warganya membunuhi orang yang dianggap kafir oleh seorang penceramah. Itu demi semua kebaikan bersama.
Aturan negara, walau memaksa, itu untuk kebaikan semua, apapun agamanya.
Mungkin anda bisa mengklaim bahwa agama juga punya tujuan sama, tapi menurut saya beda.
Aturan negara, bisa kita amandemen. Kalau tidak suka, kita bisa tekan wakil rakyat untuk mengubahnya, atau ramai-ramai bikin petisi. Ada kemungkinan didebat, diubah. Lha kalau aturan agama? Siapapun yang melawan, bisa dituduh anti agama, melawan tuhan. Itu sebabnya agak sulit kalau negara agama pakai cara demokrasi, yang cocok hanya semacam kerajaan yang kekuasaan terpusat di tangan satu orang saja.
Menurut anda gimana?
Kenapa sih musti risih dengan buku ini?, kalo bukan WAHABI ngapain risih?,YANG RISIH DIA ITU PASTI WAHABI!!,Logika lah Azhari…