Saya sering sok tahu menasihati orang-orang yang bermasalah. Padahal masalah sendiri saja sering keteteran. Kemarin, saya melakukannya lagi.
Seorang teman, tentu saja perempuan, merasa dihianati kekasihnya. Ditipu. Pacarnya ternyata punya pacar lain yang lebih posesif. Setelah terungkap, ternyata lelaki itu memilih yang lain. Hatinya pun sedih.
Beliau SMS saya, katanya ingin menangis. Lalu saya balas asal-asalan, kurang lebih begini:
Nangis aja. Sepuasnya. Mungkin cewe itu memang lebih baik dan lebih kuat dari kamu, dia akan lebih mampu bertahan hidup bersama si b*jing*n tukang selingkuh itu.
Saya tak tahu apakah SMS itu ada gunanya bagi beliau yang cintanya jadi bubur, yang jelas, kalimat asal itu ternyata lebih berguna untuk diri saya sendiri. Setelah mengirim itu, saya merasa agak lega. Seolah itu adalah nasihat untuk diri saya sendiri.
Setelah sedikit dipikir-pikir, SMS itu mengandung kebenaran yang senada dengan pernyataan sebuah kitab yang dianggap suci. “Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya.”
Masing-masing akan dapat sesuai jatahnya. Sesuai kapasitasnya masing-masing.
Konon, tuhan (yang diyakini banyak orang sebagai sering kurang kerjaan jadi suka iseng menguji), tidak akan menimpakan beban ujian/cobaan yang melebihi kapasitas korban. Diyakini tidak akan overdosis. Walau kadang ada juga yang sampai gila.
Anda boleh yakin, siapapun yang sekarang jadi pasangan dari orang yang pernah menghianati anda, dia pasti lebih pantas, lebih baik dan lebih hebat dari anda. Dan siapapun yang jadi pasangan anda setelah sebelumnya anda menghianati dan menghancurkan pasangan anda sebelumnya, pasti memang pantas untuk menerima anda. Dan karena itu anda tidak perlu sungkan mengulangi kebiadaban yang sama.
Ah.. ini mulai ngawur kan.
Agar posting ini tampak agak berbobot, mari kaitkan ide “semua sudah sesuai jatahnya” ini dengan sesuatu yang umumnya dianggap lebih penting dari urusan cinta. Misalnya kehidupan bernegara.
Kualitas pemimpin yang dimiliki sebuah bangsa, mungkin juga sesuai dengan kualitas orang-orang yang dipimpin. Pemimpin yang bodoh, akan memimpin bangsa yang bodoh. Bangsa yang tidak bodoh, tak mungkin betah dipimpin oleh pemimpin sebodoh itu.
Agar pemimpin yang bodoh bisa terus berkuasa, ya harus berusaha agar orang-orang yang dipimpin tetap bodoh. Kalau yang dipimpin jadi terlalu pintar, ya harus dibuat bodoh lagi. Harus rajin melakukan pembodohan.
Ah, jadi gimana, apakah hari ini anda sudah dibodohi? Apakah yang melakukan adalah diri anda sendiri? Apakah rasanya masih menyenangkan? Hehe


Bagaimana dengan pemimpin agama?
Tuhan itu kasih cobaan sesuai dengan kadar masing-masing kok pak de… :)
Waduh bro, ternyata panah berkarat itu belom dicabut tho?? Dicabut dulu panah yg menancap itu, jgn biarkan lukanya membusuk dan infeksi. Jangan di bawa-bawa terus panah patah yg menancap itu.
Saya rasa bro pernah dengar cerita ttg anak-anak TK yg disuruh gurunya membawa sekarung kentang kemana2. Hari pertama masih anteng, tapi setelah seminggu saat kentang busuk dan semerbak mewangi anak-anak pada gerah dan ingin meninggalkan karung berisi kentang busuk itu. ;)
entah ya. Untuk agama mungkin pengaruhnya hanya dari pimpinan, yang dipimpin hanya bisa manut. Diajak busuk nurut, diajak baik manut. Perkiraan anda gimana?
Sudah busuk
Sudah infeksi
Caranya nyabut gimana?
Jangan diungkit2 terus.., luka kalo ditowel2 terus kapan sembuhnya hehehe
Wah, sudah sembuh ya… salut :mrgreen:
:D
Wah, sudah sembuh ya… salut :mrgreen:
:D
“Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya.”
Masing-masing akan dapat sesuai jatahnya. Sesuai kapasitasnya masing-masing.
TAPI NOT ALWAYS MAS!!!!!!!!
Karena ada jug perempuan yg baik termakan rayuan laki2 hidung belang. Dan pas ketahuan wah sakitnya lebih hebat lagi. Nah ituh gimana nalarnya.
Sakit…? Ga cuma cewe, cowo juga sakit mbak.
Nikmati saja sepuasnya, nanti kalau sudah agak bosen sakit, baru deh coba dinalar. kira-kira hikmah apa yang bisa didapat. Apa yang bisa dipelajari.
Klaim ayat-ayat itu kan biasanya cuma 'pelipur lara' saja tanpa penjelasan pantas, tetep kita yang harus mikir sendiri.
*Setelah beberapa hari mencoba sok kalem namun akhirnya ahh kepancing juga saya komen di postingan ini. hihi*
Daripada kitab yang dianggap suci, IMO saya lebih percaya seleksi alam. Alasan logisnya, seleksi alam sudah ada di muka bumi sebelum kitab suci, manusia dan perangkat kebudayaannya muncul. Dapat dibuktikan dengan teknologi tingkat rendah sekalipun. Dan dapat dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami kebudayaan manusia. Alasan tidak logisnya, seleksi alam jauh lebih logis daripada kitab suci. Hehehe.
Seleksi alam mengajarkan bahwa yang paling fit adalah yang dapat bertahan hidup. Bukan yang terkuat, tercantik, maupun terkaya. Tapi yang paling fit.
Kategori fit disini mungkin dalam kacamata subyektif saya adalah yang paling mampu bertahan. Dengan segala kemampuan gabungan mental pengetahuan, maupun bakat lahiriah bawaan, ada makhluk yang memang lebih kuat bertahan di satu posisi ketimbang makhluk lainnya.
“Lelaki baik akan mendapatkan perempuan baik”, itu cuma masalah survival of the fittest.
sama logikanya dengan
“Warga negara baik akan mendapatkan pemimpin baik”
Kalau toh warga negaranya tidak baik, tentu saja ia akan pindah negara. Sama seperti kalau saja pemimpinnya tidak layak, tentu saja ia tidak dipilih rakyat. Andaipun terpilih, pasti akan banyak rencana makar atas kekuasaannya. Atau andaipun tetap saja terpilih, apakah pernah berfikir bahwa rakyatnya juga layak dapat pemimpin begitu?
(*Tiba-tiba merasa sedih terhadap nasib orang-orang JKT*)
Bener, Bang. kitab suci memang tidak selogis seleksi alam :)
Nyatanya alam itu tidak mengenal belas kasih, prilakunya logis murni karena sebab akibat. Yang bisa survive hanya yang bisa fit. Kayak orang yang walau jujur (dan hatinya terlalu suci hingga jidatnya bercahaya menyilaukan), kalau makannya rakus sembarangan, kerjaannya cuma main game dan ga pernah olah raga ya tetep aja badannya buncit berlemak dan penyakitan. Tinggal nunggu mati jantungan :P
Ga usah sedih karena nasib orang jakarta bang, juga terhadap orang manapun karena prilaku pemimpinnya. Mereka semua, kita semua pantas mendapatkannya kok :P Daripada sedih mending… err… mending ngapain ya Bang?